Aku masih duduk termenung di teras depan
rumah sambil menatap lemayung merah di langit senja. Akupun tak mengerti kenapa aku merasakan hal
sebodoh ini. Aku hanya mengikuti kata hati karena bisikan hati selalu benar tapi saat
ini ungkapan itu harus aku ralat. Kata hati tak selamanya benar.
Aku mengenal calon istriku dulu ketika aku
sedang merasakan pahitnya hidup. Aku
dikenalkan oleh sahabat karibku ketika aku duduk dibangku SMU. Gadis ini adalah
sepupu temanku. Saat itu perasaanku sedang kacau karena gadis yang aku cintai
menikah dengan laki-laki lain. Bisa dikatakan kalau dia adalah obat
pelipur lara bagiku.
Aku sudah mengenal dia sekitar satu tahun, dia
gadis yang baik. Aku sudah cukup dekat dengan dia dan juga keluarganya.
Aku rasa, dia gadis
yang tepat untuk aku. Apalagi kedua belah pihak keluarga sudah menyetujui hubungan Kami. Hubungan Kamipun sudah mengarah ke arah
pernikahan.
Sudah satu tahun lebih aku menjalani hubungan hingga akupun memutuskan untuk melamarnya. Ketika aku ungkapkan maksud baikku,
keluarga Kamipun
terlihat sangat senang mendengarnya. Akhirnya lamaranpun dilakukan, namun dengan syarat pernikahan akan
dilangsungkan setelah calon istriku lulus kuliah. Sekitar dua tahun lagi.
***
Waktu dua tahun memang waktu yang cukup
panjang. Semua bisa terjadi dalam waktu selama itu. Namun aku coba tuk jalani
ini semua sebagai konsekuensi dari sebuah hubungan.
Tanpa diduga sebenarnya, tiba-tiba hadir gadis lain dalam hidupku saat itu. Clara namanya. Tak pernah aku menduga sosok
itu hadir dalam hidupku. Awalnya
semua terjadi ketika ada nomor
telepon yang nyasar ke handphoneku, sangat klise sekali memang tapi
inilah keadaannya.
Nomor telepon yang masuk ke handphoneku sore
itu, membuatku sedikit kesal. Dia seolah memaksa kalau aku adalah temannya. Sudah berkali-kali
aku jelaskan bahwa dia salah sambung tapi dia tetap yakin aku adalah orang yang dia maksud. Itulah awalnya aku
mengenal Clara.
Dari kesalahan telepon, akhirnya malah aku benar-benar orang yang dia maksud. Akhirnya kita banyak cerita. Bahkan kita sering
bertemu. Entah kenapa ada perasaan lain di hatiku saat itu. Bahkan aku lupa
kalau aku sudah mempunyai tunangan dan akan menikah. Dan Clarapun tahu.
Setelah aku mengenal Clara, aku merasakan hampa
ketika aku dekat dengan tunanganku. Tidak seperti pada Clara, perasaan itu
selalu ada dan terus ada.
***
Pada suatu ketika Clara menjauhiku. Dia
berfikir kalau kehadirannya bisa membuat perasaanku bimbang. Aku berharap
perasaan itu akan hilang ketika dia jauh dariku. Clara tak pernah
menghubungiku. Dan akupun begitu. Aku rasa Clara akan hilang dari hatiku, tapi
ternyata tidak. Dia malah terus menguasai pikiranku.
Dia seperti ilalang yang tumbuh subur
walaupun tanpa dipupuk. Dia hadir tanpa
mengenal waktu. Menghilangnya Clara, tak membuat perasaanku tumbuh lagi pada
tunanganku. Malah aku merasa sama sekali tak tersentuh olehnya. Jika bisa aku
memilih, aku ingin pergi mengejar Clara. Namun aku tak bisa. Sungguh aku tak
mampu.
Tak terasa waktu yang seharusnya aku tunggu
akhirnya datang juga. Pernikahan aku dengan tunanganku harusnya menjadi
hari paling bahagia dalam hidupku namun tidak pada kenyataannya. Bulan depan tunanganku akan diwisuda. Itu
tandanya semakin sedikit waktuku untuk mencari Clara. Pernikahan sudah diambang
pintu. Pernikahan itu malah menjadi beban buatku. Aku bisa tersenyum, namun
entah kenapa hatiku terasa remuk.
Apakah ini cobaan menjelang pernikahan, ataukah memang dia
bukan calonku sebenarnya. Namun seolah garis hidupku sudah harus aku jalani
seperti ini.
***
Dua bulan menjelang pernikahan, aku masih
mencari Clara. Entah kenapa, perkenalan Kami memang biasa saja dan tak ada yang
istimewa, namun kenapa dia begitu menguasai pikiranku. Ketika dia jauhpun, dia tak pernah hilang
dalam benakku.
Seminggu menjelang pernikahan, hatiku semakin
gundah. Namun hari semakin singkat dan tak mungkin aku rubah semua. Aku pasrah, mungkin memang dialah calon
istriku dan bukan Clara.
Hari itu adalah hari istimewaku. Aku menikah dengan gadis yang
sudah lama aku kenal ini. Semua orang terlihat bahagia, semuanya. Namun akupun tak mengerti dengan hatiku
saat itu.
Sehari setelah pernikahan, aku melihat ada sepucuk surat
dibawah meja di teras depan. Aku buka, dan aku membacanya.
Ternyata ucapan selamat dan teriring
doa dari Ilalangku. Entah darimana dia tahu kalau aku sudah menikah.
Sampai saat ini aku masih merasakan perasaan itu
untuk ilalangku. Entah dimana dia sekarang. Namun aku
berharap perasaan itu akan segera hilang dan aku akan belajar mencintai istriku
kembali sepenuh hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar