4 Jan 2012

Ilalangku


Aku masih duduk termenung di teras depan rumah sambil menatap lemayung merah di langit senja. Akupun tak mengerti kenapa aku merasakan hal sebodoh ini. Aku hanya mengikuti kata hati karena bisikan hati selalu benar tapi saat ini ungkapan itu harus aku ralat. Kata hati tak selamanya benar.

Aku mengenal calon istriku dulu ketika aku sedang merasakan pahitnya hidup.  Aku dikenalkan oleh sahabat karibku ketika aku duduk dibangku SMU. Gadis ini adalah sepupu temanku. Saat itu perasaanku sedang kacau karena gadis yang aku cintai menikah dengan laki-laki lain. Bisa dikatakan kalau dia adalah obat pelipur lara bagiku.

Aku sudah mengenal dia sekitar satu tahun, dia gadis yang baik. Aku sudah cukup dekat dengan dia dan juga keluarganya. Aku rasa, dia gadis yang tepat untuk aku. Apalagi kedua belah pihak keluarga sudah menyetujui hubungan Kami. Hubungan Kamipun sudah mengarah ke arah pernikahan.


Sudah satu tahun lebih aku menjalani hubungan hingga akupun memutuskan untuk melamarnya. Ketika aku ungkapkan maksud baikku, keluarga Kamipun terlihat sangat senang mendengarnya. Akhirnya lamaranpun dilakukan, namun dengan syarat pernikahan akan dilangsungkan setelah calon istriku lulus kuliah. Sekitar dua tahun lagi.

***

Waktu dua tahun memang waktu yang cukup panjang. Semua bisa terjadi dalam waktu selama itu. Namun aku coba tuk jalani ini semua sebagai konsekuensi dari sebuah hubungan.

Tanpa diduga sebenarnya, tiba-tiba hadir gadis lain dalam hidupku saat itu. Clara namanya. Tak pernah aku menduga sosok itu hadir dalam hidupku. Awalnya semua terjadi ketika ada nomor telepon yang nyasar ke handphoneku, sangat klise sekali memang tapi inilah keadaannya.

Nomor telepon yang masuk ke handphoneku sore itu, membuatku sedikit kesal. Dia seolah memaksa kalau aku adalah temannya. Sudah berkali-kali aku jelaskan bahwa dia salah sambung tapi dia tetap yakin aku adalah orang yang dia maksud. Itulah awalnya aku mengenal Clara.

Dari kesalahan telepon, akhirnya malah aku benar-benar orang yang dia maksud. Akhirnya kita banyak cerita. Bahkan kita sering bertemu. Entah kenapa ada perasaan lain di hatiku saat itu. Bahkan aku lupa kalau aku sudah mempunyai tunangan dan akan menikah. Dan Clarapun tahu.

Setelah aku mengenal Clara, aku merasakan hampa ketika aku dekat dengan tunanganku. Tidak seperti pada Clara, perasaan itu selalu ada dan terus ada.

***

Pada suatu ketika Clara menjauhiku. Dia berfikir kalau kehadirannya bisa membuat perasaanku bimbang. Aku berharap perasaan itu akan hilang ketika dia jauh dariku. Clara tak pernah menghubungiku. Dan akupun begitu. Aku rasa Clara akan hilang dari hatiku, tapi ternyata tidak. Dia malah terus menguasai pikiranku.

Dia seperti ilalang yang tumbuh subur walaupun tanpa dipupuk. Dia hadir tanpa mengenal waktu. Menghilangnya Clara, tak membuat perasaanku tumbuh lagi pada tunanganku. Malah aku merasa sama sekali tak tersentuh olehnya. Jika bisa aku memilih, aku ingin pergi mengejar Clara. Namun aku tak bisa. Sungguh aku tak mampu.

Tak terasa waktu yang seharusnya aku tunggu akhirnya datang juga. Pernikahan aku dengan tunanganku harusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku namun tidak pada kenyataannya. Bulan depan tunanganku akan diwisuda. Itu tandanya semakin sedikit waktuku untuk mencari Clara. Pernikahan sudah diambang pintu. Pernikahan itu malah menjadi beban buatku. Aku bisa tersenyum, namun entah kenapa hatiku terasa remuk.

Apakah ini cobaan menjelang pernikahan, ataukah memang dia bukan calonku sebenarnya. Namun seolah garis hidupku sudah harus aku jalani seperti ini.

***

Dua bulan menjelang pernikahan, aku masih mencari Clara. Entah kenapa, perkenalan Kami memang biasa saja dan tak ada yang istimewa, namun kenapa dia begitu menguasai pikiranku. Ketika dia jauhpun, dia tak pernah hilang dalam benakku.

Seminggu menjelang pernikahan, hatiku semakin gundah. Namun hari semakin singkat dan tak mungkin aku rubah semua. Aku pasrah, mungkin memang dialah calon istriku dan bukan Clara.

Hari itu adalah hari istimewaku. Aku menikah dengan gadis yang sudah lama aku kenal ini. Semua orang terlihat bahagia, semuanya. Namun akupun tak mengerti dengan hatiku saat itu.
Sehari setelah pernikahan, aku melihat ada sepucuk surat dibawah meja di teras depan. Aku buka, dan aku membacanya. Ternyata ucapan selamat dan teriring doa dari Ilalangku. Entah darimana dia tahu kalau aku sudah menikah.


Sampai saat ini aku masih merasakan perasaan itu untuk ilalangku. Entah dimana dia sekarang. Namun aku berharap perasaan itu akan segera hilang dan aku akan belajar mencintai istriku kembali sepenuh hati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar