4 Jan 2012

DZAKI Sahabatku


Bunyi Handphone membangunkan aku dari tidurku siang itu. Agak berat kepalaku karena lembur semalam. Sengaja hari itu aku minta izin tidak masuk kerja.

SMS dari Dzaki. Dan sebuah penolakan.

Sebuah kalimat yang sangat standar tapi cukup menyayat hati, ”semoga kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku…”. Kurang lebih begitu isinya.

***

Dzaki adalah rekan kerjaku dulu. Kami bekerja sama dalam satu team untuk mengerjakan salah satu proyek. Selama kurang lebih hampir enam bulan kita bersama. Dzaki orang yang sangat cerdas. Tak salah memang kedua orangtuanya memberi nama Dzaki yang artinya Kecerdasan.

Awalnya biasa saja melihat kebaikan dia. Aku juga menganggap itu hal yang wajar karena Dzaki memang baik pada semua orang. Namun entah kenapa setiap hari kekaguman aku semakin bertambah pada dia.

Seiring berjalannya waktu, Kamipun semakin dekat sebagai sahabat, mungkin juga sebagai saudara. Tapi tak bisa dipungkiri kalau hatiku berharap lebih untuk sekedar menjadi seorang teman. Dzaki adalah teman berdiskusi yang baik, bukan hanya urusan kerjaan, tapi masalah agama, pribadi dan sebagainya. Aku semakin yakin kalau dia sangat cocok dijadikan imam dalam hidupku.

***

Tak terasa waktu berjalan. Proyek yang kita tangani sudah berhasil Kami garap. Tapi aku berharap Dzaki tetap disini. Namun, aku mendengar dia akan pergi dari kota ini setelah semua beres dan akan melanjutkan hidupnya didaerah kelahirannya.

Cukup mengagetkan, cukup membuatku kecewa dengan keputusan dia. Walaupun berkomunikasi bisa lewat apa saja tapi aku tak yakin kita bisa seperti ini lagi. Ada rasa takut kehilangan yang mungkin wajar dirasakan.

Aku berfikir, apa sebaiknya aku mengutarakan maksud hatiku kepada dia. Berharap dia mau jadi imam dalam hidupku. Walau rasa segan pasti ada dalam diri aku saat itu. Namun aku yakin dia pasti mengerti. Walaupun aku harus mengemas rapi kekecewaan atau penolakan yang mungkin terjadi nanti. Aku sudah siap dengan semua itu.

Kuutarakan maksud hatiku padanya. Berharap apa yang ku inginkan bisa dia sambut dengan baik. Tak ada maksud lain selain aku ingin menjalani hidup ini bersamanya. Karena aku merasa dia sosok yang aku cari selama ini.

Menunggu jawaban dia membuat aku resah. Aku harus berfikir positif dengan jawaban apapun yang dia beri untukku nanti. Semua yang terjadi padaku itu pasti jalan yang terbaik yang Allah SWT beri untuk aku.

***

Seperti siang itu, aku mendapatkan sebuah penolakan halus dari dia. Rasa kecewa pasti ada dalam hati, namun kekaguman ini tak pernah hilang. Dzaki menolak permintaan aku karena sesuatu hal yang tak dia ungkapkan. Entah karena apa. Yang pasti aku harus menepis semua keinginanku pada dia.

Dzaki pergi sesuai rencananya. Melanjutkan hidup didaerah tempat tinggalnya. Tapi Kami masih sering berkomunikasi. Penolakan Dzaki membuatku belajar, bahwa tidak semua keinginan harus menjadi kenyataan. Allah SWT selalu memberikan sesuatu yang tepat pada waktu yang tepat.

Suatu hari Dzaki mengatakan sesuatu padaku, bahwa dia akan bekerja di luar negeri dan akan menetap beberapa tahun disana. Sebagai sahabat yang baik aku pasti mensupport apapun keputusan dia.

Satu bulan lagi dia akan pergi dan dia memintaku untuk bertemu sebelum dia pergi.
Hari itu aku dan Dzaki akan bertemu disuatu tempat. Setelah beberapa waktu Kami tidak bertemu. Mungkin ada rasa yang berbeda ketika aku bertemu dengannya nanti. Namun aku berharap aku bisa mengontrol perasaanku sendiri.

Aku sudah melihat Dzaki duduk di café itu, café yang biasa Kami singgahi dengan rekan-rekan kerja dulu ketika Kami masih dalam satu proyekan. Dzaki tidak sendiri, dia bersama seseorang. Seorang laki-laki. Mungkin temannya atau saudaranya.

Seulas senyum dia berikan untukku. Dia mengenalkan laki-laki itu padaku. Dia sepupu Dzaki yang sekarang menetap di kota ini.

***

Setelah pertemuan itu, malam harinya Dzaki menguhubungiku. Dia mengatakan bahwa sepupunya itu sedang mencari calon istri. Dan Dzaki berfikir aku cocok untuknya. Tak ada salahnya bila dicoba untuk dijalani, siapa tahu dia hadiah yang Allah SWT berikan untuk aku. Lagipula referensi dari seorang Dzaki bisa dipercaya.

Satu hal yang Dzaki katakan padaku waktu itu, ”Aku ingin melihat sahabatku bahagia dan mempunyai pendamping yang terbaik…”. Sungguh indah kata-kata itu.

Akhirnya aku mencoba untuk mengenal laki-laki itu. Aku berfikir dia sosok yang baik, sopan dan hampir mirip dengan Dzaki.

Laki-laki itu memang sebuah hadiah dari Allah SWT buat aku. Laki-laki yang saat ini ada dalam hidupku. Menghiasi hari-hariku. Dan lebih pantas untuk aku panggil…dialah suamiku…Suami terbaik yang aku harap selama ini.

Perjalanan hidup seseorang memang tak pernah ada yang menyangka. Aku memiliki rasa kagum pada Dzaki, namun Dzaki mengenalkan aku pada sepupunya yang tak lain adalah suamiku sekarang. Allah SWT sudah memberikan jalan itu. Kita hanya berusaha dan menjalaninya.


Kebahagiaan bertambah ketika lahir jagoanku. Aku dan suami sepakat memberikan nama…Muhammad Dzaki Ilyas. Aku berharap dia menjadi anak yang sholeh dan cerdas seperti sahabatku.

1 komentar:

  1. Emang kyak sahabat kecilku dulu..
    Namanya Adi wahyu setiawan.
    Tapi yang maha kuasa memanggilnya untuk kembali kepadanya...
    Aku sangat rindu pada sahabat kecilku & sahabat tersayangkku..
    Miss youu Kawan Disini kami rindu Kmu ..
    juga orang tuamu,embah kmu.. jga merindukanmmu Kawan..
    Tunggu Kami disana Kawan..
    Adi wahyu setiawan.. :* :( ;'(

    BalasHapus