Bunyi Handphone membangunkan aku dari tidurku siang itu. Agak berat kepalaku karena
lembur semalam. Sengaja hari itu aku minta izin tidak masuk kerja.
SMS dari Dzaki.
Dan sebuah penolakan.
Sebuah kalimat
yang sangat standar tapi cukup menyayat hati, ”semoga kamu mendapatkan seseorang yang lebih
baik dari aku…”. Kurang lebih begitu isinya.
***
Dzaki adalah rekan
kerjaku dulu. Kami bekerja sama dalam satu team untuk mengerjakan salah satu
proyek. Selama kurang lebih hampir enam bulan kita bersama. Dzaki orang yang
sangat cerdas. Tak salah memang kedua orangtuanya memberi nama Dzaki yang artinya Kecerdasan.
Awalnya biasa
saja melihat kebaikan dia. Aku juga menganggap itu hal yang wajar karena Dzaki
memang baik pada semua orang. Namun entah kenapa setiap hari kekaguman aku
semakin bertambah pada dia.
Seiring
berjalannya waktu, Kamipun semakin dekat sebagai sahabat, mungkin juga sebagai
saudara. Tapi tak bisa dipungkiri kalau hatiku berharap lebih untuk sekedar
menjadi seorang teman. Dzaki adalah teman berdiskusi yang baik, bukan hanya
urusan kerjaan, tapi masalah agama, pribadi dan sebagainya. Aku semakin yakin
kalau dia
sangat cocok dijadikan imam dalam hidupku.
***
Tak terasa waktu
berjalan. Proyek yang kita tangani sudah berhasil Kami garap. Tapi aku
berharap Dzaki tetap disini. Namun, aku mendengar dia akan pergi dari kota ini
setelah semua beres dan akan melanjutkan hidupnya didaerah kelahirannya.
Cukup
mengagetkan, cukup membuatku kecewa dengan keputusan dia. Walaupun
berkomunikasi bisa lewat apa saja tapi aku tak yakin kita bisa seperti ini lagi. Ada
rasa takut kehilangan yang mungkin wajar dirasakan.
Aku berfikir,
apa sebaiknya aku mengutarakan maksud hatiku kepada dia. Berharap dia mau jadi
imam dalam hidupku. Walau rasa segan pasti ada dalam diri aku saat itu. Namun
aku yakin dia pasti mengerti. Walaupun aku harus mengemas rapi kekecewaan atau penolakan yang
mungkin terjadi nanti. Aku sudah siap dengan semua itu.
Kuutarakan
maksud hatiku padanya. Berharap apa yang ku inginkan bisa dia sambut dengan baik. Tak ada
maksud lain selain aku ingin menjalani hidup ini bersamanya. Karena aku merasa
dia sosok yang aku cari selama ini.
Menunggu jawaban
dia membuat aku resah. Aku harus berfikir positif dengan jawaban apapun yang dia
beri untukku nanti. Semua yang terjadi padaku itu pasti jalan yang terbaik yang
Allah SWT beri untuk aku.
***
Seperti siang
itu, aku mendapatkan sebuah penolakan halus dari dia. Rasa kecewa pasti ada dalam hati,
namun kekaguman ini tak pernah hilang. Dzaki menolak permintaan aku karena
sesuatu hal yang tak dia ungkapkan. Entah karena apa. Yang pasti aku harus
menepis semua keinginanku pada dia.
Dzaki pergi
sesuai rencananya. Melanjutkan hidup didaerah tempat tinggalnya. Tapi Kami
masih sering berkomunikasi. Penolakan Dzaki membuatku belajar, bahwa tidak
semua keinginan harus menjadi kenyataan. Allah SWT selalu memberikan sesuatu
yang tepat pada waktu yang tepat.
Suatu hari Dzaki
mengatakan sesuatu padaku, bahwa dia akan bekerja di luar negeri dan akan
menetap beberapa tahun disana. Sebagai sahabat yang baik aku pasti mensupport apapun keputusan dia.
Satu bulan lagi
dia akan pergi dan dia memintaku untuk bertemu sebelum dia pergi.
Hari itu aku dan
Dzaki akan bertemu disuatu tempat. Setelah beberapa waktu Kami tidak bertemu.
Mungkin ada rasa yang berbeda ketika aku bertemu dengannya nanti. Namun aku
berharap aku bisa mengontrol perasaanku sendiri.
Aku sudah
melihat Dzaki duduk di café itu, café yang biasa Kami singgahi dengan rekan-rekan kerja dulu ketika Kami masih dalam satu
proyekan. Dzaki tidak sendiri, dia bersama seseorang. Seorang laki-laki.
Mungkin temannya atau saudaranya.
Seulas senyum
dia berikan untukku. Dia mengenalkan laki-laki itu padaku. Dia sepupu Dzaki
yang sekarang menetap di kota ini.
***
Setelah
pertemuan itu, malam harinya Dzaki menguhubungiku. Dia mengatakan bahwa
sepupunya itu sedang mencari calon istri. Dan Dzaki berfikir aku cocok
untuknya. Tak ada salahnya bila dicoba untuk dijalani, siapa tahu dia hadiah
yang Allah SWT berikan untuk aku. Lagipula referensi dari seorang Dzaki bisa
dipercaya.
Satu hal yang
Dzaki katakan padaku waktu itu, ”Aku ingin melihat sahabatku bahagia dan mempunyai pendamping yang
terbaik…”. Sungguh indah kata-kata itu.
Akhirnya aku
mencoba untuk mengenal laki-laki itu. Aku berfikir dia sosok yang baik, sopan
dan hampir mirip dengan Dzaki.
Laki-laki itu
memang sebuah hadiah dari Allah SWT buat aku. Laki-laki yang saat ini ada dalam
hidupku. Menghiasi hari-hariku. Dan lebih pantas untuk aku panggil…dialah
suamiku…Suami terbaik yang aku harap selama ini.
Perjalanan hidup
seseorang memang tak pernah ada yang menyangka. Aku memiliki rasa kagum pada
Dzaki, namun Dzaki mengenalkan aku pada sepupunya yang tak lain adalah suamiku
sekarang. Allah SWT sudah memberikan jalan itu. Kita hanya berusaha dan menjalaninya.
Kebahagiaan bertambah
ketika lahir jagoanku. Aku dan suami sepakat memberikan nama…Muhammad Dzaki Ilyas. Aku berharap dia menjadi anak yang sholeh dan cerdas seperti
sahabatku.
Emang kyak sahabat kecilku dulu..
BalasHapusNamanya Adi wahyu setiawan.
Tapi yang maha kuasa memanggilnya untuk kembali kepadanya...
Aku sangat rindu pada sahabat kecilku & sahabat tersayangkku..
Miss youu Kawan Disini kami rindu Kmu ..
juga orang tuamu,embah kmu.. jga merindukanmmu Kawan..
Tunggu Kami disana Kawan..
Adi wahyu setiawan.. :* :( ;'(