4 Jan 2012

Hati Suamiku


Aku masih merenung memikirkan apa yang terjadi dengan hati suamiku saat ini. Setelah hampir sepuluh tahun Kami menikah dan dikaruniai dua putri cantik, apakah dia tak pernah mencintaiku sebagai istrinya.

Kami menikah sudah cukup lama. Sebagai seorang suami, beliau adalah sosok yang aku rasa sempurna. Tanggung jawab, perhatian dan pengertian. Sosok yang mungkin diidam-idamkan oleh seluruh para istri di dunia. Tapi kenapa aku masih merasa cemas dan khawatir dengan perasaannya.

Dari awal Kami menikah, aku yakin suamiku tak mencintaiku seperti halnya aku mencintainya. Tapi aku juga yakin bukan keterpaksaan juga kenapa dia harus menikahiku saat itu. Mungkin ini memang sudah menjadi takdir kita untuk menjadi seorang sepasang suami istri.

Kami menikah memang karena perjodohan orangtua Kami. Aku yang memang sudah mengenal suamiku sejak duduk di bangku sekolah merasa kagum karena sifat dia. Namun aku tahu kalau dulu suamiku pernah punya calon istri lain dan bukan aku. Tapi entah karena apa calonnya itu malah memilih laki-laki lain dan meninggalkan suamiku.

Menurut kabar, suamiku mengalami depresi saat itu. Untuk beberapa waktu yang cukup lama suamiku tak ingin mengenal wanita lagi untuk menjadi calon istrinya. Sampai akhirnya suamiku dikenalkan padaku oleh kedua orangtuanya. Mertuaku itu adalah sahabat baik orangtuaku.

Sejak dulu suamiku tak pernah menganggapku apa-apa. Dia hanya menganggapku sebagai seorang teman. Namun karena desakan orangtua akhirnya Kamipun menikah. Beberapa kali aku tanyakan sebelum Kami menikah apakah dia terpaksa menikahiku. Dia selalu jawab, “tidak”, dia menikah karena Allah.

Pernikahan Kami berjalan baik-baik saja. Pertengkaran mungkin ada, tapi bukan pertengkaran yang hebat. Suamiku adalah tipe pengalah, karena memang umurnya yang terpaut cukup jauh denganku. Hampir 6 tahun. Keraguan itu selalu ada dalam hatiku. Walaupun saat itu aku sudah punya seorang putri.

Seperti sore itu, aku masih ingat betul ketika tanpa sengaja aku membuka laptop dia. Ada goresan tulisan dia dalam catatan yang menyebutkan bahwa dia belum bisa melupakan wanita itu. Sungguh menyakitkan aku membaca tulisannya, namun aku tak berani menanyakan hal itu pada suamiku. Aku hanya bisa memendam dan menangis, memohon agar Allah menguatkan aku.

Pernah juga suatu ketika, aku melihat dia melamun di teras belakang. Saat aku panggil untuk makan, beliau tak menggubrisnya. Sampai akhirnya si kecil menariknya untuk makan bareng. Setelah suamiku berada di meja makan, aku penasaran dan melihat buku yang memang saat itu sedang dibaca suamiku. Alangkah kagetnya aku ketika diantara kertas-kertas buku itu masih ada foto wanita itu.

Lagi-lagi aku hanya diam. Menahan semua kemarahan yang ada di hatiku. Aku merasa tak berarti sebagai seorang istri. Jika aku bisa bertanya pada semua para istri di dunia, apa perasaan mereka bila sang suami masih mencintai wanita lain??? Pasti mereka merasakan apa yang aku rasakan saat ini.

Pernah aku diskusikan permasalahan itu pada mertuaku. Namun mereka pun tak bisa mencarikan solusi untukku. Mereka hanya menyuruhku untuk tetap bersabar. Ya…memang hanya itu mungkin yang harus aku lakukan saat ini.

Pernah aku tanyakan pada beliau, apakah dia mencintaiku sebagai istrinya atau tidak. Dia menjawab dengan dingin, ”kalau aku tak mencintaimu, aku tak mungkin menikahimu…” hanya itu jawabannya.
Mungkin dia mencintaiku, mungkin dia menyayangiku. Tapi mungkin juga dia mencintai wanita lain.

***

Setelah empat tahun kita menikah, lahir putri Kami yang kedua. Kami sangat bahagia mendapatkan karunia lagi, dua orang putri cantik hadir dalam kehidupan  Kami. Tapi entah kenapa belum hilang juga perasaan itu dalam hatiku.

Sejak kelahiran anak Kami yang kedua. Sifat suamiku perlahan berubah. Dia jarang melamun sendiri seperti halnya dulu. Dulu hampir menjadi kebiasaan dia untuk melamun di teras belakang. Namun aku yakin, mungkin tak semudah itu juga perasaannya bisa hilang dari hatinya.

Suatu hari, ketika malam tiba. Ketika aku sudah menidurkan anak-anakku. Suamiku mengajakku duduk di ruang tengah. Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Kamipun duduk disana, aku buatkan secangkir kopi, karena suamiku paling suka minum kopi apalagi disaat udara sedang dingin.

Dia memintaku untuk duduk didekatnya, lalu dia menatapku dan entah kenapa kulihat matanya berkaca-kaca. Aku bertanya ada apa. Dia malah memelukku dan menangis. Aku tambah merasa heran, ada apa dengan suamiku.

Beliau berkata, “Aku sudah sangat berdosa padamu. Tak seharusnya aku merasakan perasaan cinta kepada wanita lain selainmu. Istriku adalah masa depanku, Ibu dari anak-anakku, tapi kenapa aku malah mengecewakanmu karena masih menyimpan perasaan dimasa lalu. Maafkan aku…”.

Suamiku seperti tak bisa meneruskan kata-katanya lagi saat itu. Akupun tak kuasa berkata lagi. Aku hanya bisa berkata saat itu kalau aku akan selalu menunggu saat itu tiba, saat dimana perasaan dia hanya untuk istrinya, hanya untuk aku.

***


Aku selalu berdoa agar aku dan suami selalu menjadi keluarga sakinah yang selalu dalam lindungan-NYA. Aku tak tahu apakah perasaan kepada wanita itu sudah hilang atau tidak. Tapi aku selalu berdoa agar Yang Diatas memberikan aku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ini semua. Semoga suatu saat nanti hati suamiku menjadi milikku seutuhnya.

4 komentar:

  1. http://solitd.blogspot.com/2013/05/promo-software-rental-mobil.html

    BalasHapus
  2. Mantap cerpennya, ceritanya happy ending hehe.

    BalasHapus
  3. Aku ngalamin itu mba..smlm..dan hati ini masih ga bisa percaya..marah..sedih..malu..merasa di bohongi..merasa bersalah..semua campur aduk membuat dada ini sakiiitt...sesak... ga bisa berkata apa2..karna saya bukan tipe orang yg bis mengungkapkan perasaan secara langsung..

    BalasHapus
  4. Aku ngalamin itu mba..smlm..dan hati ini masih ga bisa percaya..marah..sedih..malu..merasa di bohongi..merasa bersalah..semua campur aduk membuat dada ini sakiiitt...sesak... ga bisa berkata apa2..karna saya bukan tipe orang yg bis mengungkapkan perasaan secara langsung..

    BalasHapus