Aku masih
merenung memikirkan apa yang terjadi dengan hati suamiku saat ini. Setelah
hampir sepuluh tahun Kami menikah dan dikaruniai dua putri cantik, apakah dia
tak pernah mencintaiku sebagai istrinya.
Kami menikah
sudah cukup lama. Sebagai seorang suami,
beliau adalah sosok yang aku rasa sempurna. Tanggung jawab, perhatian dan pengertian. Sosok
yang mungkin diidam-idamkan oleh seluruh para istri di dunia. Tapi kenapa aku masih merasa
cemas dan khawatir dengan perasaannya.
Dari awal Kami
menikah, aku yakin suamiku tak mencintaiku seperti halnya aku mencintainya.
Tapi aku juga yakin bukan keterpaksaan juga kenapa dia harus menikahiku saat
itu. Mungkin ini memang sudah menjadi takdir kita untuk menjadi seorang
sepasang suami istri.
Kami menikah
memang karena perjodohan orangtua Kami. Aku yang memang sudah mengenal suamiku
sejak duduk di bangku sekolah merasa kagum karena sifat dia. Namun aku tahu kalau
dulu suamiku pernah punya calon istri lain dan bukan aku. Tapi entah karena apa calonnya
itu malah memilih laki-laki lain dan meninggalkan suamiku.
Menurut kabar,
suamiku mengalami depresi saat itu. Untuk beberapa waktu yang cukup lama
suamiku tak ingin mengenal wanita lagi untuk menjadi calon istrinya. Sampai
akhirnya suamiku dikenalkan padaku oleh kedua orangtuanya. Mertuaku
itu adalah sahabat baik orangtuaku.
Sejak dulu suamiku
tak pernah menganggapku apa-apa. Dia hanya menganggapku sebagai seorang teman. Namun karena desakan
orangtua akhirnya Kamipun menikah. Beberapa kali aku tanyakan sebelum Kami menikah
apakah dia terpaksa menikahiku. Dia selalu jawab, “tidak”, dia menikah karena Allah.
Pernikahan Kami
berjalan baik-baik saja. Pertengkaran mungkin ada, tapi bukan pertengkaran yang hebat.
Suamiku adalah tipe pengalah, karena memang umurnya yang terpaut cukup jauh denganku.
Hampir 6 tahun. Keraguan itu selalu ada dalam hatiku. Walaupun saat itu aku sudah
punya seorang putri.
Seperti sore
itu, aku masih ingat betul ketika tanpa sengaja aku membuka laptop dia. Ada
goresan tulisan dia dalam catatan yang menyebutkan bahwa dia belum bisa
melupakan wanita itu. Sungguh menyakitkan aku membaca tulisannya, namun aku tak berani menanyakan hal itu pada suamiku. Aku hanya
bisa memendam dan menangis, memohon agar Allah menguatkan aku.
Pernah juga
suatu ketika, aku melihat dia melamun di teras belakang. Saat aku panggil untuk
makan, beliau tak menggubrisnya. Sampai akhirnya si kecil menariknya untuk
makan bareng. Setelah suamiku berada di meja makan, aku penasaran
dan melihat buku yang memang saat itu sedang dibaca suamiku. Alangkah kagetnya
aku ketika diantara kertas-kertas buku itu masih ada foto wanita itu.
Lagi-lagi aku hanya diam.
Menahan semua kemarahan yang ada di hatiku. Aku merasa tak berarti sebagai seorang
istri. Jika aku bisa bertanya pada semua para istri di dunia, apa perasaan
mereka bila sang suami masih mencintai wanita lain??? Pasti mereka merasakan
apa yang aku rasakan saat ini.
Pernah aku
diskusikan permasalahan itu pada mertuaku. Namun mereka pun tak bisa mencarikan
solusi untukku. Mereka hanya
menyuruhku untuk tetap bersabar. Ya…memang hanya itu
mungkin yang harus aku lakukan saat ini.
Pernah aku
tanyakan pada beliau, apakah dia mencintaiku sebagai istrinya atau tidak. Dia
menjawab dengan dingin, ”kalau aku tak mencintaimu, aku tak mungkin menikahimu…” hanya itu jawabannya.
Mungkin dia
mencintaiku, mungkin dia menyayangiku. Tapi mungkin juga dia mencintai wanita lain.
***
Setelah empat tahun
kita menikah, lahir putri Kami yang kedua. Kami sangat bahagia mendapatkan karunia lagi, dua
orang putri cantik hadir dalam kehidupan
Kami.
Tapi entah kenapa belum hilang juga perasaan itu dalam hatiku.
Sejak kelahiran anak Kami yang kedua. Sifat suamiku perlahan berubah.
Dia jarang melamun sendiri seperti halnya dulu. Dulu hampir menjadi kebiasaan dia untuk melamun di teras belakang. Namun aku
yakin, mungkin tak semudah itu juga perasaannya bisa hilang dari hatinya.
Suatu hari, ketika malam tiba. Ketika aku sudah menidurkan anak-anakku. Suamiku mengajakku duduk di ruang tengah.
Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Kamipun duduk disana, aku buatkan
secangkir kopi, karena suamiku paling suka minum kopi apalagi disaat udara
sedang dingin.
Dia memintaku
untuk duduk didekatnya, lalu dia menatapku dan entah kenapa kulihat matanya berkaca-kaca. Aku bertanya ada apa. Dia malah memelukku dan
menangis. Aku tambah merasa heran, ada apa dengan suamiku.
Beliau berkata, “Aku sudah sangat berdosa
padamu. Tak seharusnya aku merasakan perasaan cinta kepada wanita lain selainmu.
Istriku adalah masa depanku, Ibu dari anak-anakku, tapi kenapa aku malah mengecewakanmu karena
masih menyimpan perasaan dimasa lalu. Maafkan aku…”.
Suamiku seperti tak bisa meneruskan kata-katanya lagi saat itu.
Akupun tak kuasa berkata lagi. Aku hanya bisa berkata saat itu kalau aku akan
selalu menunggu saat itu tiba, saat dimana perasaan dia hanya untuk istrinya, hanya untuk aku.
***
Aku selalu
berdoa agar aku dan suami selalu menjadi keluarga sakinah yang selalu dalam
lindungan-NYA. Aku tak tahu apakah perasaan kepada wanita itu sudah hilang atau
tidak. Tapi aku selalu berdoa agar Yang Diatas memberikan aku kekuatan dan
kesabaran dalam menghadapi ini semua. Semoga suatu saat nanti hati suamiku menjadi milikku seutuhnya.
http://solitd.blogspot.com/2013/05/promo-software-rental-mobil.html
BalasHapusMantap cerpennya, ceritanya happy ending hehe.
BalasHapusAku ngalamin itu mba..smlm..dan hati ini masih ga bisa percaya..marah..sedih..malu..merasa di bohongi..merasa bersalah..semua campur aduk membuat dada ini sakiiitt...sesak... ga bisa berkata apa2..karna saya bukan tipe orang yg bis mengungkapkan perasaan secara langsung..
BalasHapusAku ngalamin itu mba..smlm..dan hati ini masih ga bisa percaya..marah..sedih..malu..merasa di bohongi..merasa bersalah..semua campur aduk membuat dada ini sakiiitt...sesak... ga bisa berkata apa2..karna saya bukan tipe orang yg bis mengungkapkan perasaan secara langsung..
BalasHapus