4 Jan 2012

Mukena Untuk Ibu


Masih dengan mukena yang lusuh, Ibu sholat sangat khusuk sekali walaupun di rumah kontrakan Kami yang sangat sempit. Kami tinggal berdua setelah musibah longsor di daerah Kami yang menewaskan Ayah dan Kakak Kami. Dulu…Kami hidup cukup sederhana, Ayah yang hanya seorang kuli bangunan namun Kami selalu mencoba merasa cukup atas rejeki yang Allah SWT berikan. Dengan penghasilan Ayah yang sangat pas-pasan untuk makan, tapi orangtua Kami selalu berusaha menabung untuk sekolah Aku dan Kakakku. Ibu hanya seorang penjual gorengan didepan rumah, lumayan, untuk membantu perekonomian keluarga.

Namun setelah musibah itu, kita tinggal berdua, kita kehilangan rumah, kita kehilangan kakak, dan kita kehilangan Ayah. Tapi kita sadar semua berasal dari-NYA dan akan kembali pada-NYA. Semua itu bukan milik kita. Kitapun pindah dari daerah tempat Kita tinggal. Dan akhirnya mengontrak disebuah rumah kecil.

Aku seorang anak laki-laki, usiaku 18 tahun, aku duduk dibangku SMU, satu tahun lagi lulus. Untuk membiayai sekolahku, aku bekerja sepulang sekolah menjadi pekerja di rumah Pak Achmad, seorang yang cukup terpandang didaerah Kami sekaligus pemilik kontrakan tempat aku dan Ibu tinggal sekarang. Alasan beliau memperkerjakan aku mungkin karena melihat perekonomian aku dan Ibu yang sangat mengkhawatirkan. Didaerah itu beliau terkenal dengan sifat kedermawanannya.

Gajiku tak seberapa, untuk biaya sekolah dan makan sudah terpenuhipun, aku sudah mengucap  kata syukur tak terhingga. Ini pertolongan Allah SWT melalui tangan Pak Achmad. Aku tulang punggung keluarga saat ini, Ibu tidak mungkin bekerja karena kondisi fisiknya yang sudah tidak memungkinkan. Ibu sudah sakit-sakitan, setelah Ayah meninggal, penyakit Ibu jadi tambah parah.

***

Ba’da Magrib, hari minggu…seperti biasa aku pulang ke rumah setelah bekerja seharian menjadi ‘kuli’ di rumah Pak Achmad. Jika waktu libur, aku seharian bekerja, berbeda dengan hari sekolah, aku cuman bisa melakukan pekerjaan itu setengah hari saja sepulang sekolah. Merapikan kebun, cuci mobil atau motor, bersih-bersih rumah, apapunlah…Pak Achmad cukup senang dengan pekerjaanku selama ini.

Sesampainya di rumah. Kuucapkan salam dan Ibu hanya menjawab seperlunya, mungkin Ibu sedang berdzikir di kamar. Itu yang selalu Ibu lakukan setiap ba’da magrib sambil menunggu waktu isya. Aku tak pernah mengganggunya. Namun malam itu tak biasanya Ibu menghampiriku.

“Sudah sholat magrib Nak?” tanya Ibu.

“Sudah Bu, tadi sebelum pulang, aku sholat dulu. Ibu kenapa gak dzikir?” tanyaku.

“Sudah...Ibu boleh minta sesuatu Nak?” tanya Ibu.

Tumben fikirku, selama aku menjadi anaknya dan akan selalu menjadi anak Ibu, tak pernah Ibu meminta sesuatu padaku. Pasti permintaan Ibu itu sangat penting sampai Ibu bilang seperti itu.

“Tentu saja boleh Bu, selama aku bisa melakukannya, Ibu minta apa?” tanyaku.

Ibu sedikit ragu-ragu, namun setelah berkali-kali aku tanya akhirnya beliau bicara juga apa yang menjadi keinginannya.

“Mukena Ibu sudah lusuh Nak, masa menghadap-NYA harus dengan penampilan seperti ini...”ungkapnya sambil memperlihatkan mukena yang sudah sangat lusuh.

“Oooh, Ibu ingin mukena…baiklah Bu, doakan saja supaya aku dapat rejeki buat beli mukena yah...” jawabku.

Permintaan yang sederhana sebenarnya. Mungkin harga mukena tak seberapa buat orang lain. Tapi buatku permintaan Ibu itu cukup membuatku berfikir. Aku harus menabung untuk sekolahku, untuk pengobatan Ibu, buat bayar kontrakan rumah, belum lagi untuk makan sehari-hari. Hampir tak ada uang yang tersisa setiap bulannya. Tapi untuk permintaan Ibu itu, pasti akan aku usahakan.

Sekarang, setiap hari aku berusaha menekan pengeluaranku seminimal mungkin, terkadang di sekolahpun aku tak pernah jajan, kalau teman-teman tanya, cukup dengan jawaban sudah kenyang. Uang jajanku aku kumpulkan untuk membelikan Ibu mukena baru.

Lima bulan berlalu, mungkin uang yang sudah kukumpulkan untuk beli mukena sudah cukup, butuh waktu lima bulan untuk sekedar membeli mukena, padahal diluar sana, anak-anak muda bisa menghabiskan uang orangtuanya jutaan rupiah untuk berpoya-poya, tapi tak apalah, perjuangan yang berat akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, Insya Allah.

***

Pagi itu, aku pamit pergi sekolah, setelah pulang sekolah aku langsung berganti profesi menjadi ‘kuli’ di rumah Pak Achmad. Namun, hari itu aku bilang pada Ibu kalau aku akan pulang telat, aku mau beli mukena untuk Ibu. Terlihat wajah Ibu sangat gembira, setelah keadaan kita seperti ini, tak pernah aku melihat Ibu segembira ini. Namun entah kenapa perasaanku tak enak meninggalkan Ibu sendirian di rumah saat itu. Tak biasanya aku seperti ini. Apa karena semalam batuk Ibu kambuh lagi.

Sampai di pintu rumah, ketika aku akan melanjutkan langkahku. Berkali-kali aku melihat Ibu yang masih berada didalam rumah. Entah ada apa denganku saat itu. Ibu dengan senyumnya berkata padaku “Sudah pergi sana, Ibu tak apa-apa.”. Tanpa menjawabnya akupun langsung pergi.

Setelah pulang sekolah, aku langsung ke rumah Pak Achmad. Aku biasanya kerja di rumah beliau sampai pukul tujuh malam, namun hari itu, aku meminta izin untuk keluar dulu  sekitar pukul tiga sore, mudah-mudahan toko mukena masih buka. Untungnya Pak Achmad seorang yang bijaksana, dia mengijinkan aku untuk pergi dulu.

Setelah sampai di toko mukena, aku langsung memilih-milih mukena. Ibu suka warna hijau muda, kupilih mukena yang warna hijau muda. Alhamdulilah uang yang aku kumpulkan ternyata cukup untuk mukena itu. Setelah dibungkus dan dibayar, aku langsung pergi ke rumah Pak Achmad untuk melanjutkan pekerjaanku.

Sekitar pukul lima sore, ada tetangga dekat rumahku datang dengan tergesa-gesa mengabarkan kalau kondisi Ibu di rumah sangat mengkahawtirkan. Batuk Ibu memang semalam tampak parah sekali. Pengobatan selama ini mungkin hanya bisa mengurangi rasa sakit Ibu, bukan untuk mengobati. Mungkin harus melakukan pengobatan ke rumah sakit besar untuk mengobati Ibu, tapi uang dari mana???

Setelah mendengar kabar dari tetanggaku itu, aku langsung meminta ijin pulang. Karena jarak antara rumahku dan Pak Achmad cukup jauh, beliau menawarkan untuk mengantarkan aku dengan mobilnya sambil beliau ingin melihat keadaan Ibu. Akhirnya aku menerima tawaran Pak Achmad.

Mobil melaju kencang dan sampailah aku di rumah. Kulihat Ibu memang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Tak bisa ku tahan tangisku melihat keadaan Ibu. Aku mendekatinya, aku memeluknya, ku lihat Pak Achmad masih berdiri didepan pintu kamar.

“Ibu…Ibu tak apa-apa?” tanyaku. Ibu cuman bisa menggelengkan kepalanya.

“Apa yang harus aku lakukan untuk Ibu?” tanyaku lagi. Ibu terdiam.

“Bu…ini mukena untuk Ibu,maaf aku baru bisa membelikannya sekarang. Ibu sangat suka kan warna hijau muda, makanya warna ini ku pilih untuk Ibu.” ungkapku.

Kuberikan mukena itu ke tangan Ibu, Ibu tersenyum. Kulihat ada tetesan air mata jatuh dari matanya. Pak Achmad yang dari tadi berdiri didepan pintu kamar, berinisiatif membawa Ibu ke rumah sakit dan biaya akan ditanggung beliau. Namun Ibu seolah tak setuju. Ibu malah berbisik.

“Nak…tuntun Ibu mengucap dua kalimat syahadat sekarang juga”.

Aku sempat kaget, ada apa dengan Ibu. Tapi mata Ibu seolah menginsyaratkan untuk aku segera melakukannya. Akhirnya akupun melakukan apa yang diminta Ibu. Setelah itu, Ibu pergi untuk selamanya.

Mukena itu…mukena untuk Ibu, mukena yang belum sempat Ibu kenakan untuk menghadap-MU Ya Robb. Pilu hatiku, ada rasa kekecewaan di hatiku, kenapa aku membiarkan Ibu menunggu terlalu lama untuk dapat mukena baru. Ibu hanya ingin mukena. Ibu tak minta rumah besar, Ibu tak minta mobil mewah, Ibu tak minta jalan-jalan keluar negeri. Ibu hanya meminta mukena untuk beribadah kepada-MU Ya Robb…namun tak ada yang bisa aku perbuat saat itu. Keadaan perekonomian memang memaksaku untuk menunda keinginan Ibu. Tapi ini takdir-MU Robb. Penyesalan tak ada gunanya.

***

Setelah Ibu pergi menyusul Ayah dan Kakakku, akupun hidup sebatang kara. Dengan kesendirianku ini, Pak Achmad menawarkan aku untuk tinggal saja di rumahnya. Dan akupun menyetujuinya.
Tak terasa waktu kelulusanpun tiba. Aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Setelah aku berziarah ke makam Ibu, Ayah dan Kakakku, aku langsung memberikan nilai kelulusanku pada Pak Achmad. Beliau sangat senang dengan hasil kelulusanku itu.

Malam itu, baru saja aku akan beristirahat melepas lelah, tiba-tiba Pak Achmad memanggilku. Aku langsung menghampirinya. Pak Achmad menanyakan tentang rencanaku setelah lulus, kalau boleh jujur, aku belum ada rencana apa-apa. Lalu beliau menawarkan beasiswa untuk aku kuliah asal di Universitas negeri. Alangkah senangnya aku, aku sangat bersyukur pada-MU Robb. Jika saat ini Ayah, Ibu, dan Kakakku masih ada, pasti mereka akan senang. Tapi ku yakin mereka pasti melihat kegembiraanku ini di sana.

Akupun mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi negeri dan hasilnya akan diumumkan satu bulan kemudian. Waktu satu bulan itu akan menjadi waktu yang sangat mendebarkan buat aku, aku tak boleh mengecewakan Pak Achmad yang sudah menganggapku anak sendiri.

Satu bulan berlalu, pengumuman kelulusan bisa dilihat di Koran pagi. Pagi-pagi sekali aku sudah membeli Koran untuk melihat apa aku lulus atau tidak. Alhamdulillah aku lulus masuk perguruan tinggi negeri yang cukup ternama di kota itu dengan jurusan sesuai harapanku. Bersyukur, sangat-sangat bersyukur…betapa Allah SWT sangat memanjakanku.

***

Sekarang….saat ini….aku sudah bekerja disalah satu perusahaan besar di kota ini. Perekonomianku sudah sangat berbeda jauh dengan dulu. Aku sudah berkeluarga, mudah-mudahan akan menjadi keluarga bahagia sampai akhir dunia.


Mukena untuk Ibu selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Mukena untuk Ibu…Mukena itu akan menjadi kenangan tersendiri untuk aku dan Ibu. Mudah-mudahan Ayah, Ibu dan Kakakku mendapatkan tempat yang layak di sisi-MU, dipelukan kasih sayang-MU Robb. Doaku akan terus mengalir untuk kalian… aku bersama keluargaku yang masih bisa bernafas sampai detik ini, semoga selalu berada dalam lindungan-MU. 

1 komentar: